Tampilkan postingan dengan label kontemplasi. Tampilkan semua postingan

Miliki Etika dan Integritas Engkau Akan Memiliki Dunia

Ada pepatah yang menjelaskan "semakin tua dan semakin banyak bulir padi, semakin rendah tangkai padi menunduk." Pepatah ini mewakili kesetiaan seorang individu luar biasa untuk menjunjung tinggi etika profesionalismenya. Hal ini berbeda dengan banyak fenomena yang memperlihatkan kebanggaan dan kebesaran kita terhadap apa yang kita miliki. Kita merasa dengan memiliki ilmu pengetahuan, jabatan, jaringan atau koneksi, seakan-akan kita memiliki seisi dunia. Secara tidak sadar, kita sedang didorong masuk ke wilayah keegoisan manusia yang selalu ingin dianggap, dihormati, dijunjung, dan diakui.
 
Meski semua itu merupakan kebutuhan dasar manusia sebagai fondasi untuk memiliki harga diri, tetapi jika kita renungkan secara lebih mendalam, apalah artinya semua keilmuan tersebut tanpa diikuti oleh kerendahan hati.

Memiliki etika itu berarti menghormati hak-hak orang lain, kepentingan orang lain, kebutuhan orang lain, tanpa bermaksud untuk mendholimi hak-hak pribadi. Hanya saja kita dituntut untuk menempatkan diri secara tepat pada situasi dan kondisi yang sebaiknya.

Etika juga dapat berarti menghormati ketidaktahuan orang lain dan menghargai keahlian orang lain. Orang yang etis tidak akan menertawakan kebodohan atau ketidaktahuan orang lain. Di sisi lain juga tidak merasa benar sendiri sehingga tidak mengakui pengetahuan dan keahlian orang lain. Jika ia mengetahuinya, ia akan secara jujur mengatakan apa yang diketahinya. Begitu juga sebaliknya jika ia tidak tahu, tanpa merasa malu ia akan mengakui bahwa ia belum tahu atau belum belajar, sembari meminta untuk diajarkan.

Apa hubungan antara etika dan integritas? Melihat kejujuran orang-orang yang memiliki etika, sudahlah pasti integritas akan mengikuti orang-orang yang demikian. Integritas berarti menyamakan antara apa yang ia pikirkan dengan tindakannya. Integritas juga berarti menyatukan antara perkataan dan perbuatan. Sementara fenomena yang kita lihat, banyak di antara kita yang tidak cocok antara perkataan dan perbuatannya.

Dengan perkataan, kita dapat membingkainya dengan ucapan-ucapan atau ungkapan-ungkapan yang dapat memukau orang, tetapi perbuatan tidak akan mudah kita kamuflasekan dengan penampilan. Perbuatan seringkali memiliki makna tersendiri yang lebih dalam dibandingkan dengan apa yang kita katakan. Orang seringkali melihat apa yang kita lakukan tanpa mendengarkan apa yang kita ucapkan.

Memang tidak mudah memiliki kedua hal itu, tetapi tidak ada salah dan terlmbatnya jika kita mulai melatihnya sejak saat ini dari hal-hal kecil yang kita lakukan. Mari kita belajar untuk meng-etika-kan diri sendiri, sebelum meminta orang lain menghormati kita. Mari kita juga mulai belajar mengatakan apa yang akan kita lakukan dan hanya melakukan apa yang kita katakan.

Jika ingin mengatakan sesuatu katakanlah hal yang baik, dan jika ingin berbuat sesuatu yang baik berbuatlah lebih dari apa yang diharapkan orang lain.

Hidup Milik Kita

Kebetulan pada saat menulis posting ini saya, saya barusan membaca sebuah artikel dengan judul “Jika Tuhan Menghendaki” di www.kickandy.com. Setelah membacanya, terlintas dalam pikiran saya sebuah pertanyaan “sebegitu kuatkah niat tulus dari seseorang hingga Tuhan pun turun tangan?”
Kita tidak akan pernah bisa menyangka apa yang dapat Tuhan lakukan dalam kehidupan kita. Tetapi setahu saya, prinsip dasar yang harus dipegang dalam kehidupan ini adalah, "kehidupan kita bukan hanya milik pribadi kita sendiri, tetapi juga milik orang lain di sekitar kita." Artinya kita harus dapat memberikan manfaat kepada siapa pun yang membutuhkannya.
02 Oktober 2009
Posted by Ilham

Bergabung dengan Yahoo Group KataBijak

Group ini berisi kumpulan KataBijak yang dapat menjadi inspirasi dalam kehidupan kita agar menjadi lebih baik, lebih bermakna, dan lebih berkualitas.

Jika Anda ingin berbagi katabijak, kata mutiara, nasehat-nasehat bijak, kata-kata motivasi, afirmasi, semangat, dan lain sebagainya kirimkan katabijak Anda ke Group KataBijak.
29 Agustus 2009
Posted by Ilham

The Secret: Learning about Power of Mind


Judul Film : The Secret
Produser : Rhonda Byrne
Sutradara : Drew Heriot
Durasi : 90 menit



Film ini bercerita tentang rahasia masa lampau yang telah lama ditinggalkan oleh orang-orang modern, yaitu tentang kekuatan pikiran. Dalam hidup ini sebenarnya kita telah mewarisi pengetahuan luhur masa lampau dari orang-orang bijak yang telah berjuang sepenuh hati untuk menemukan kearifan dan pengetahuan ini. Hanya saja karena pengetahuan ini adalah pengetahuan tingkat tinggi – untuk konteks masyarakat pada saat itu – sehingga hanya sedikit orang yang mampu memahaminya dengan baik.
29 April 2009
Posted by Ilham

Eksistensi Manusia

Sejarah panjang penelusuran pemikiran manusia tentang eksistensi keberadaannya telah memberikan penjelasan tentang apa tujuan kehidupan manusia. Hampir setiap pemikiran, setiap kultur dan budaya memiliki kearifan tersendiri tentang bagaimana memahami hakekat keberadaan diri. Adapun arti dari hakekat eksistensi manusia dapat dipahami -sebagaimana dijelaskan oleh Leslie Stevenson dan David L. Haberman- sebagai berikut:

……hakekat manusia berarti –dalam konteks perseorangan- makna dan tujuan hidup kita, apa yang sebaiknya kita lakukan dan kita usahakan, apa yang boleh diharapkan untuk dicapai atau kita berharap menjadi apa. Sementara dalam konteks masyarakat atau komunitas manusia, hakekat kemanusiaan berarti visi komunitas manusia yang bagaimana yang kita harapkan terwujud dan jenis perubahan social macam apa yang harus kita lakukan.

Menurut konfusius, manusia secara fundamental sama. Kita menjadi berbeda-beda disebabkan cara kita menghadapi hidup. Karena itu Konfusius percaya bahwa lingkungan dan jalan hidup sangat mempengaruhi karakter manusia. Meskipun demikian, manusia tetap memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi lebih baik, artinya manusia memiliki kapasitas untuk menumbuhkan kebajikan dan membawa dirinya dalam harmoni dengan Titah Surga. Konfusius menjelaskan bahwa manusia yang telah mampu meningkatkan kapasitas dirinya dapat menjadi manusia sempurna, yaitu manusia yang memupuk moral dalam dirinya sendiri dan membawa kedamaian dan keamanan kepada masyarakat. Prinsip ini sesungguhnya, memiliki kesamaan dengan hokum emas: "Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau memperlakukan dirimu sendiri". Dan orientasi akhir dari hakekat kemanusiaan dalam ajaran konfusius adalah terbentuknya manusia-manusia yang arif dan bijaksana yang mampu menebar kebajikan dan kearifan bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain.


Sementara itu dalam pemahaman Brihad Aranyaka Upanishad, manusia sesungguhnya tidak berdiri sendiri tetapi ia menyatu dengan semua yang ada. Keluarga kita bukan hanya sesama manusia melainkan semua yang ada. Hal ini merupakan kelanjutan dari ajaran Upanishad yang menyatakan bahwa : "Diri semua ini adalah dirimu juga". Dan diri yang murni (atman) adalah raja dari semua yang ada. Dengan demikian diri adalah semuanya dan semuanya adalah diri itu sendiri. Atas dasar penyatuan diri semesta ini, pemahaman akan ajaran ini mempunyai konsekuensi bahwa jika kita tidak menaruh perhatian terhadap hakikat sejati realitas sama artinya dengan ketidakpedulian terhadap hakikat sejati kita sendiri. Dalam pengertian terbalik, jika kita tidak tahu siapa diri kita sebenarnya merupakan konsekuensi dari kita tidak mau tahu akan hakikat realitas. Pada prinsipnya hakekat kemanusiaan menurut Brihad Aranyaka Upanishad adalah penyatuan hakekat diri kemanusiaan dengan diri semesta, entah itu alam, dunia hewan maupun dunia tumbuh-tumbuhan, yang penting adalah manunggaling manungso kalian semesta. Penyatuan ini pada hakekatnya akan mengantarkan seseorang mencapai pengetahuan tertinggi akan hakekat kemanusiaan itu sendiri.

Menurut Karl Marx “hakekat riil manusia adalah keseluruhan hubungan-hubungan social”. Pernyataan ini muncul dari realitas social yang dilihat Marx berjalan timpang, di mana terdapat jurang pemisah yang sangat dalam antara kaum buruh dan pemodal. Ketimpangan hubungan ini kemudian melahirkan ketidakseimbangan hubungan social antara individu dengan individu lainnya. Hubungan yang ada bukan untuk dimaksudkan untuk saling menguntungkan bahkan sebaliknya kaum pemodal mengeksploitasi habis-habisan sumber daya manusia kaum buruh. Kenyataan ini pun masih dapat kita lihat hingga hari ini. Berbeda dengan Marx, Sartre menyatakan bahwa “manusia dihukum untuk bebas”. Ia bersikukuh bahwa setiap pribadi benar-benar bebas untuk memutuskan apa yang diinginkan dan dilakukannya. Menurut Sartre, setiap aspek kehidupan jiwa kita merupakan sesuatu yang kita pilij dan kita pertanggungjawabkan seutuhnya. Menurutnya, jika seseorang sedih, kesedihan itu bukan disebabkan oleh seseuatu yang berada di luar kehendaknya, tetapi kesedihan itu merupakan pilihan diri sendiri untuk merasakan kesedihan. Dua pandangan di atas, merupakan pandangan yang saling berhadap-hadapan. Marx memberikan landasan bagi kesetaraan social sementara Sartre memberikan kebebasan yang luas bagi masing-masing pribadi.

Adapun hakekat kemanusiaan dalam ajaran agama-agama samawi cenderung memahami hakekat kemanusiaan dalam konteks relasi dengan Tuhan (Zat yang Transenden). Baik itu ajaran Yahudi, Nasrani, dan Islam semuanya bermuara pada konsep teologi langit (samawi) yang merupakan wahyu Tuhan.

13 April 2009
Posted by Ilham

Mempertanyakan Hakekat Diri 1


Pertanyaan tentang hakekat eksistensi kemanusiaan sudah berjalan sejak manusia sadar akan keberadaan dirinya (awareness of existence). Pertanyaan ini menjadi begitu penting karena jawabannya akan memberikan arah dan tujuan berlabuh bagi siapa saja yang telah mengetahuinya.



Hidup selalu punya awal dan akhir yang akan dilalui langkah-demi langkah, setahap demi setahap, dan setapak demi setapak. Karena hidup hanya satu kali maka hidup memerlukan orientasi yang jelas dan terarah sehingga hidup tidak akan berlalu begitu saja bersama hilangnya waktu. Kesempatan hidup yang satu kali ini, tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya, karena itu kesempatan ini jika tidak dijalankan dengan penuh rencana maka hidup akan kehilangan arti kehadirannya.

Fight 4 Better Indonesia


Membicarakan Indonesia, bagi saya berarti membicarakan masa depan manusia Indonesia dengan segala keanekaragamannya. Jika orang masih ragu dengan masa depan bangsa ini, justru saya berpikir sebaliknya. Indonesia akan memiliki masa depan yang lebih baik dari kondisi sekarang. Tidak peduli apapun kondisi saat ini, selama masih ada orang-orang seperti Anda yang masih sadar dan mengkritik kebiijakan pemerintah, selama masih ada Anda yang berusaha memperbaiki diri, selama masih ada Anda yang mencintai Indonesia...maka masih ada harapan besar kebangkitan bangsa ini.
08 April 2009
Posted by Ilham

Selamat Pagi Indonesia

Adakah yang berubah dengan kehidupan kita hari ini...Perubahan personal dari masing-masing kita akan menjadi masa depan bangsa Indonesia. Indonesia bukanlah apa-apa tanpa kehadiran kita sebagai entitas penting bangsa ini.
19 Januari 2009
Posted by Ilham

Otak dan Hidup adalah Pilihan

Ya...itulah kenyataan dari kehidupan kita. Sepanjang perjalanan hidup kita merupakan serangkaian dari berbagai pilihan yang telah kita tentukan bagi diri kita.
Anda memiliki otak yang luar biasa. Otak Anda menghasilkan pikiran Anda. Anda bisa mengendalikan otak Anda untuk melakukan hal-hal yang bisa meningkatkan kualitas kemampuan dan keahlian Anda, bahkan dapat meningkatkan kualitas kehidupan Anda dengan cara Anda memilih secara sadar apa yang Anda pikirkan.
07 Februari 2008
Posted by Ilham

Risalah Cinta

Jika engkau mengatakan sungguh cinta maka sesungguhnya engkau tak sungguh cinta. Bila engkau mengatakan rindu aku ragu, apakah engkau benar-benar rindu. Jika engkau katakan sayang, mungkinkah benar itu sayangmu. Aku tidak meragukanmu. Aku tidak merendahkanmu. Aku tidak pula ingin menafikan cintamu, meniadakan rindumu atau menghilangkan sayangmu. Aku cuma ingin berkata, "mengapa engkau batasi cintamu dengan katamu, mengapa engkau kurangi rindumu dengan ungkapanmu, mengapa pula kau sempitkan sayangmu hanya dengan ucapanmu." Aku tidak butuh jawabanmu. Tidak pula alasanmu. Aku tidak ingin menilaimu, sebab aku bukanlah juri yang jujur. Aku tidak pula ingin menghukummu karena aku bukanlah hakim yang adil. Aku cuma khawatir engkau akan menghilangkan cintamu dengan kata-katamu. Aku juga takut engkau akan menafikan sendiri rindumu dengan rindu dalam katamu.
09 Januari 2008
Posted by Ilham

Tulisan Populer

- Copyright © Inspirator Indonesia - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -