Tampilkan postingan dengan label cerita dan inspirasi. Tampilkan semua postingan
Kisah Kesabaran Pohon
Posting berikut ini saya kutip dari blog yang sangat menarik mangoleh.com. Saya kutip apa adanya untuk dapat memberikan gambaran yang utuh tentang inspirasi kisah berikut ini.
Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga ke dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.
Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka di dalam pohon itu.
Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang. Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. “Pohon yang sangat berguna,” begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.
Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai merasa sakit-sakitan dan semakin menua. Daun-daunnya mulai kekuningan, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dahulu di milikinya. Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang-orang tidak mahu lagi mendekati dan singgah untuk berteduh.
Sang pohon tua pun bersedih. “Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku inginkan teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?” begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan. “Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini? Sang pohon tua terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.
Musim telah berganti, namun keadaan tidak juga berubah. Sang pohon tua tetap kesepian dalam kesedihannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang.
“Cittt…cericirit…cittt” Ah suara apa itu? Ternyata, .ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya. “Cittt…cericirit…cittt”, suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu…dua…tiga…dan empat anak burung lahir ke dunia. “Ah, doaku di jawab-Nya,” begitu seru sang pohon.
Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk bersarang disana. Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih berbagai macam jenis. “Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini”, gumam sang pohon dengan berbinar.
Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.
Sahabat, begitulah. Hikmah yang dapat kita petik melalui cerita di atas? Tuhan memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Tuhan, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita. Walaupun terkadang penyelesaiannya tak selalu mudah , namun, yakinlah, Tuhan tahu yang terbaik buat kita.
Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang diberikan-Nya, bukanlah satu harga yang tiada nilainya. Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah S.W.T memberikan cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA untuk memberikan kemuliaan kepada pohon itu. Allah S.W.T tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. TUHAN, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.
19 Juni 2013
Posted by
admin
Puisi Buah Kesabaran
Kesabaran ada batasnya
tapi bila bersabar, kesabaran akan memberi yang terbaik dalam kehidupan
tapi bila bersabar, kesabaran akan memberi yang terbaik dalam kehidupan
Aku minta dari Tuhan setangkai bunga segar,
Tapi diberiNya kaktus berduri dan jelek….
Aku minta kupu-kupu,
diberiNya ulat jelek dan berbulu…..
Aku kecewa dan marah pada Tuhan… dan tidak peduli lagi dengan Tuhan dan permintaanku…
Tapi diberiNya kaktus berduri dan jelek….
Aku minta kupu-kupu,
diberiNya ulat jelek dan berbulu…..
Aku kecewa dan marah pada Tuhan… dan tidak peduli lagi dengan Tuhan dan permintaanku…
Tapi saat aku sudah tidak peduli lagi… tiba-tiba…
kaktus itu berbunga indah sekali….
dan ulat itu menjadi kupu-kupu yang begitu indah dan cantik..
Itulah janji Tuhan, selalu indah pada waktunya,,,
kaktus itu berbunga indah sekali….
dan ulat itu menjadi kupu-kupu yang begitu indah dan cantik..
Itulah janji Tuhan, selalu indah pada waktunya,,,
itulah buah kesabaran kita….
bersyukurlah selalu untuk semua hal yang kita terima dalam hidup ini.
Ketika teman melakukan kesalahan yang yang tidak bisa kita lupakan maka bersabarlah, karena siapa tahu Tuhan menitipkan sesuatu yang indah dalam kesalahan itu……
bersyukurlah selalu untuk semua hal yang kita terima dalam hidup ini.
Ketika teman melakukan kesalahan yang yang tidak bisa kita lupakan maka bersabarlah, karena siapa tahu Tuhan menitipkan sesuatu yang indah dalam kesalahan itu……
Balon-balon Kerinduan
Kisah berikut ini adalah tentang kerinduan yang tidak ada habisnya. Seringkali kita lupa dengan orang-orang yang kita cintai karena kesibukan kita. Sehingga suatu saat ketika mereka begitu merindukan kita, mereka harus berjuang untuk melepaskan balon, memberi tanda betapa mereka merindukan kita….
Seorang bapak memiliki dua orang anak. Setiap kali bila mereka memiliki waktu bebas, maka ia akan membawa kedua anaknya ke lapangan luas dan melepaskan balon-balon ke udara. Anehnya, balon-balon yang dilepaskan itu semuanya berwarna merah. Setiap kali mereka datang ke lapangan itu pasti balon merahlah yang dilepaskan.
Suatu saat sang ayah ditugaskan untuk bekerja di kota lain. Pada saat hendak meninggalkan rumah ia berpesan kepada kedua anaknya bahwa bila mereka sungguh amat merindukan kehadiran sang ayah, maka mereka hendaknya melepaskan balon merah agar ditiup angin ke langit lepas. Dan dengan melihat balon tersebut sang ayah bisa mengetahui kalau mereka sedang merindukan kehadirannya.
Ternyata kepergian sang ayah bukanlah suatu perpisahan yang singkat. Kedua anak tersebut menanti dengan penuh rindu, dan berulang kali melepaskan balon merah ke udara. Namun tetap saja tak berguna karena ayahnya yang bekerja di tempat yang jauh tak pernah mampu melihat balon yang dilepaskan tersebut.
Suatu hari, kedua anak tersebut secara sembunyi-sembunyi sekali lagi melepaskan balon merah. Para tetangga merasa begitu iba dan terharu melihat betapa besar kerinduan kedua anak tersebut untuk bertemu sang ayah. Karena itu semua tetangga lalu ramai-ramai membeli jutaan balon dan menjadikan saat itu sebagai saat istimewa bagi warga tetangga tersebut. Semua beramai-ramai menuju lapangan luas dan melepaskan jutaan balon merah ke udara. Ke mana saja mata memandang, yang kelihatan adalah warna balon merah yang menakjubkan. Keajaiban balon merah tersebut ditangkap oleh seorang reporter. Dan…tatkala melihat berita keajaiban tersebut, sang ayah tahu bahwa kedua anaknya sedang merindukan kehadirannya, dan dengan segera melepaskan kesibukannya untuk kembali memberikan kasih sayang kepada kedua anaknya tersebut. Balon merah sungguh telah menjadi sarana yang menyatukan mereka kembali. Dikutip dari blog tetangga: michaelyamin.net
Sudut Pandang Sangat Menentukan Sikap Kita
Ada sebuah kisah yang bagus tentang seorang petani yang tinggal di perladangan tua yang berantakan sepanjang hidupnya. Hujan menjadikan tanahnya berbatu-batu seperti sungai kering, pohon-pohonnya hanya sedikit nilainya untuk dijadikan kertas, rumah dan lumbungnya keliatan seperti gubuk, dan keadaan yang serba berantakan ini terletak sejauh beberapa mil dari jalan raya. Maka dia memutuskan untuk menjual semuanya.
Dia naik ke mobil pikap tuanya dan menyetir ke kantor surat kabar. Dia masuk dan mengatakan kepada sekretaris bahwa dia ingin pasang iklan di surat kabar untuk menjual tempatnya. Sekretaris menyurug petani pergi menemui penulis iklan, yang dengan cermat mendengarkan kata-katanya dan kemudian menulis iklan.
Iklan menekankan peerbukitan indah yang berombak-ombak, dan anak sungai yang airnya gemericik - bukan tanah berbatu-batu. Iklan ini bicara tentang berbagai pohon dan kemugkinan bisa mengubah rumah sesuai dengan citarasa pribadi siapa saja. Dan iklan juga bicara tentang lokasi sunyi tempat orang bisa menikmati kicauan burung-uburung dan aroma bunga liar yang indah.
Penulis iklan membacakan naskah iklan kepada petani. Petani berkata, "Tolong bacakan kepada saya sekali lagi." Dia minta dibacakan sekali lagi-sekali lagi. Setelah mendengarnya untuk ketiga kalinya, petani berjalan menghampiri, mengambil kertas yang berisikan naskah iklan dan berkata, "Sekarang dengar, kawan, perladangan ini tidak dijual. Tepat seperti itulah tempat ya saya inginkan sepanjang hidup saya". (Dikutip dari Buku "Why Winners Win" hal. 12-13)
Jika melihat penjelasan dalm buku Why Winners Win, cerita ini berbicara tentang sikap seseorang dalm melihat apa yang mereka miliki dan ketidakpuasan terhadap kepemilikan mereka. Namun saya akan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput kita sendiri. Ini adalah statemen klasik tentang rasa tidak terima kasih kita atas semua yang kita miliki. Kita selalu merasa apa yang kita miliki belum cukup dan selalu kurang. Milik kita tidak lebih baik dibandingkan dengan milik orang lain. Akibatnya kita menjadi serakah dan berharap memiliki banyak hal, padahal itu tidak mungkin.
Saya bertanya, adakah cara agar kita mencintai dan mensyukuri apa yang kita miliki? Saya teringat pernyataan "kita akan merasa betapa berharganya sesuatu ketika kita kehilangannya." Coba lakukan hal ini:
Jika melihat penjelasan dalm buku Why Winners Win, cerita ini berbicara tentang sikap seseorang dalm melihat apa yang mereka miliki dan ketidakpuasan terhadap kepemilikan mereka. Namun saya akan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput kita sendiri. Ini adalah statemen klasik tentang rasa tidak terima kasih kita atas semua yang kita miliki. Kita selalu merasa apa yang kita miliki belum cukup dan selalu kurang. Milik kita tidak lebih baik dibandingkan dengan milik orang lain. Akibatnya kita menjadi serakah dan berharap memiliki banyak hal, padahal itu tidak mungkin.
Saya bertanya, adakah cara agar kita mencintai dan mensyukuri apa yang kita miliki? Saya teringat pernyataan "kita akan merasa betapa berharganya sesuatu ketika kita kehilangannya." Coba lakukan hal ini:
Jika Anda memiliki sesuatu yang tidak terlalu Anda sukai karena penampilanya, atau hal lain yang membuat Anda tidak suka dengan sesuatu tersebut, bayangkan Anda akan menjual barang tersebut, dan Anda membuat iklan yang menarik dari sesuatu itu. Bayangkan keuntungan apa yang akan diperoleh pembeli dengan membeli yang Anda jual. Berikan ungkapan-ungkapan yang dapat menunjukkan kelebihan dan peluang-peluang dengan memiliki sesuatu yang Anda jual tersebut. Buatlah pernyataan jual yang dapat menggerakkan orang untuk membelinya dan mereka akan puas dengan sesuatu yang Anda jual.Setelah itu, lihatlah dan bacalah baik-baik kalimat penjualan yang telah Anda buat. Jangan-jangan apa yang kita cari dan kita inginkan ada pada apa yang kita miliki sekarang. Kita sering melihat kekurangannya, dan melupakan potensi dan peluang dari yang kita miliki. Mulai sekarang, ubahlah cara melihat Anda, ganti sudut pandannya, lihatlah dengan perspektif terbalik, dan berikanlah pertanyaan "bagaimana jika......?"
Pupuklah sikap dengan mengawalinya dengan sudut pandang yang berbeda.
08 Juni 2013
Posted by
admin
Kakek, Cucu, dan Keledai
Di sebuah desa tinggallah seorang Kakek bersama dengan Cucunya. Sang Kakek telah lama memelihara seekor keledai yang selama ini membantunya mengangkut kayu bakar untuk dijual di pasar. Keledai itu merupakan keledai yang Sangat rajin membantu tuannya. Namun akhir-akhir ini, keledai itu sudah tidak kuat bekerja sebagaimana sebelumnya, karena umurnya yang sudah tua.
Keadaan ini membuat Sang Cucu kasihan melihat keadaan Kakeknya yang harus bekerja lebih keras, karena keledai tua itu sudah tidak mampu bekerja sementara makannya banyak. Melihat hal itu, Sang Cucu mengusulkan kepada Kakeknya untuk menjual keledai itu, dan uang penjualan itu akan dipakai untuk membeli keledai yang masih muda dan kuat bekerja. Dan usulan tersebut disetujui oleh Sang Kakek.
Keesokan harinya, berangkatlah Sang Kakek bersama Cucunya sambil menuntun keledai tua itu. Di tengah perjalan mereka bertemu dengan sekelompok orang yang sedang duduk di pinggir jalan. Salah satu dari orang-orang itu berkata kepada rekan-rekannya: “Eh teman-teman, lihatlah dua orang gila itu”, sambil menunjuk ke arah Kakek dan Cucu yang sedang menuntun keledai, “keledai kan untuk ditunggangi bukan dituntun. Wah, mereka benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.” Teman-temannya yang lain, tersenyum dan mengiyakan yang dikatakan oleh teman mereka.
Mendengar hal itu, Sang Cucu berkata kepada Kakeknya: “Kek, benar ya apa yang dikatakan oleh orang-orang tadi. Keledai kan untuk ditunggangi. Kalau begitu Kakek aja yang naik, biar saya yang menuntunnya”. Sambil menyilakan Kakeknya naik ke atas punggung keledai tersebut. “Baiklah Cucuku”. Jawab Sang Kakek.
Namun tidak lama berselang setelah kejadian tadi, mereka kemudian menjumpai seorang laki-laki yang sedang berjalan sendiri. Laki-laki itu datang mendekati mereka dan berkata: “Bagaimana mungkin engkau akan dikatakan sebagai Kakek yang baik sementara Cucumu berjalan menuntun keledai sedangkan engkau hanya duduk enak-enakan di atas punggung keledai itu ? Kata laki-laki itu sembari pergi tanpa permisi kepada Sang Kakek dan Cucunya.
Memikirkan hal itu, Sang Kakek kemudian berkata kepada Cucunya: “Cucuku, naiklah engkau ke atas punggung keledai ini biarkan Kakek yang menuntunnya”. Sambil ia turun dari keledai itu dan menaikan Cucunya ke atas punggung keledai.
Setelah melewati sebuah desa berikutnya, mereka menemui para orang tua yang sedang berkumpul. Salah seorang yang paling tua di antara mereka, berkata: “Anak-anak sekarang memang sudah tidak pernah tau bagaimana menghormati orang tua. Masa dia duduk di atas dengan santainya sementara Kakeknya berjalan menuntuk keledai tua itu.”
Mendengar hal itu, Sang Cucu memberhentikan keledainya dan berkata kepada Kakeknya: “Kek, yang mana sih sebenarnya yang baik ?” Sambil bingung memikirkan apa yang baru saja di ucapkan oleh lelaki dewasa tersebut. “Kalau begitu kita tunggangi bersama-sama”.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan itu hingga mereka sampai di sebuah perkampungan. Di kampung tersebut mereka bertemu dengan seorang pecinta binatang dan menahan mereka. Pecinta binatang tersebut menegur mereka : “Wahai Kakek dan engkau anak muda, apakah kalian tidak memiliki perikehewanan sehingga kalian menaiki keledai yang sudah tua itu? Kalian memang tidak memiliki kasih sayang terhadap keledai yang sudah membantu kalian selama ini”.
Mendengar teguran seperti itu, Sang Kakek dan Cucu itu merasa kasihan dan turun dari punggung keledai. Sang Kakek kemudian berkata : “Cucuku, mungkin kita harus melakukan sesuatu untuk menghormati keledai yang telah membantu kita selama ini sebelum kita jual”. “Apa yang harus kita lakukan, Kek? Tanya Sang Cucu. “Kita pikul saja bersama-sama”. Kata Sang Kakek.
Tidak lama setelah itu mereka pun kemudian memikul keledai itu. Namun sesampainya di jembatan gantung Sang Kakek dan Cucu kesulitan membawa keledai itu karena jembatannya terus bergoyang. Semakin mereka ke tengah semakin jembatan itu bergoyang. Hingga mereka tidak bisa menjaga keseimbangan. Akhirnya, mereka bukannya mendapatkan uang, sebaliknya mereka harus jatuh ke sungai sementara keledainya langsung mati.
INSPIRASI
Betapa banyak kita hidup dalam dunia omongan orang lain. Kita sudah tidak menjadi diri kita sendiri. Kehidupan kita merupakan kehidupan yang dibentuk oleh orang lain. Kita tidak memiliki kuasa atas diri kita sendiri. Bahkan ironisnya keputusan-keputusan yang kita buat bukan lagi keputusan kita sendiri tetapi keputusan orang lain yang mengatasnamakan diri kita. Saya pernah membaca bahwa orang-orang besar yang telah mampu membuat perubahan besar dalam kehidupan mereka karena mereka bernani membuat keputusan atas nama dirinya sendiri dan siap dengan segala resiko yang akan diterimanya.
Yang harus diingat bahwa kita sedang menjalani kehidupan kita sendiri bukan kehidupan orang lain, sehingga orang lain sesungguhnya tidak punya hak untuk mengatur kehidupan kita seperti ini dan itu. Kita seharusnya memiliki kuasa penuh atas semua kehendak, pemikiran, keinginan, dan kehidupan kita masing-masing. Tetapi memang kadang-kadang kuasa ini tergerus oleh berbagai kepentingan yang ada di sekeliling kita entah itu kita sadari maupun tidak.
Untuk menikmati hidup kita, maka mau tidak mau kita harus memiliki kehidupan kita sendiri. Bagaimana kita bisa menikmati kehidupan ini jika kita tidak memiliki kuasa atas diri kita. Salah seorang trainer saya pernah mengatakan, "Anda harus menjadi raja bagi diri Anda sendiri, baru Anda dapat menentukan arah hidup Anda." Dengan kata lain untuk mengemudikan kapal kita, kita harus menjadi nahkoda dari kapal itu, bukan dengan menjadi penumpangnya atau bahkan pekerjanya.
Satu hal yang dapat menjadi inspirasi bahwa, kehidupan ini hanya berjalan sekali, berlaku sekali pakai, tidak bisa diulang kembali atau diisi ulang kembali jika masa tenggangnya telah berakhir. Karena ia berjalan sekali, maka sudah selayaknya kita memikirkan kembali kehidupan kita agar berjalan sesuai dengan kehendak kita, sehingga suatu saat kita tidak akan pernah menyesal dan menyalahkan orang lain atas kehidupan yang kita jalani. Bahagianya adalah jika kita berhasil meraih kesuksesan dalam kehidupan ini, semuanya merupakan hasil dari keputusan kita. Dan jika pun gagal, itu juga kesalahan kita bukan orang lain.
Sebagai inspirasi akhirnya, saya ingin menunjukkan kiasan sederhana: Mungkinkah seorang pemain bola dapat memasukkan bolanya ke gawang jika ia mengikuti kata-kata penontonnya? Penonton sebelah utara mengatakan: bawalah bolanya ke arah kiri lalu ke tengah dan tendang ke gawangnya. Sebaliknya penonton sebelah selatan mengatakan: jangan dibawa ke kiri tapi ke kanan, lalu operkan ke temanmu, biarkan temanmu yang mengisinya. Penonton yang lain mengatakan: jangan, jangan dibawa ke kanan atau ke kiri, lurus saja, lari dengan cepat, lalu tendang dengan keras ke arah gawang. Penonton yang lain mengatakan: lepaskan bola itu ke arah temanmu, lalu larilah kamu dengan cepat ke arah gawang, tunggu operan dari kawanmu.
Coba bayangkan situasinya jika pemain itu hanya mendengarkan omongan dari para penonton itu? Kemungkinan besar bola itu sudah diambil oleh pemain lawan. Dalam situasi apapun, kita harus memiliki keputusan sendiri. Omongan orang lain hanyalah bahan untuk membuat pertimbangan dan keputusan. Bukan mereka yang membuat keputusan untuk diri kita.
Jadilah diri sendiri bukan dengan menjadi orang lain. Hiduplah dalam kehidupan sendiri bukan kehidupan orang lain. Buatlah keputusan Anda sendiri jangan biarkan orang lain memutuskan kehidupan Anda. Pilihlah kehidupan Anda jangan biarkan orang lain memilihkan kehidupan seperti apa yang harus Anda jalani. Hanya Anda yang tahu diri dan kehidupan Anda, bukan orang lain. Jika memang demikian, kenapa harus membiarkan orang lain mengatur kehidupan Anda. Anda punya kuasa atas diri Anda, maka jadilah raja bagi diri Anda sendiri.
Salam Rruarr Biasa
Go Indonesia Go Excellence!



